Kota Ternate menjadi salah satu pusat perhatian dunia pagi ini saat fenomena alam langka, Gerhana Matahari Total (GMT) 9 Maret 2016 yang melintasi wilayah Maluku Utara. Tim pengamat dari Griya Antariksa turut bergabung dengan ratusan peneliti internasional dan ribuan warga untuk menyaksikan detik-detik tertutupnya piringan Matahari oleh Bulan secara sempurna. Utusan Griya Antariksa Mutoha Arkanuddin ditunjuk oleh Tim Gerhana Universitas Ahmad Dahlan (TIGER UAD) bersama 5 orang anggota tim lainnya melakukan kegiatan sosialisasi dan pengamatan umum untuk publik pada hari terjadinya gerhana. Pengamatan berlangsung di samping Kompleks Masjid Raya An Muwwar Ternate. Pagi itu di seputaran masjid ribuan orang berjudel demi untuk ikut menyaksikan periswa langka Gerhana Matahari Total. Alhamdulillah cuaca cerah sehingga tahapan gerhana dari mulai sebagaian hingga totalitas berlangsung dapat disaksikan.

Kronologi Pengamatan
Fenomena ini dimulai sejak pagi hari dengan langit yang sempat diselimuti awan tipis. Berikut adalah rincian fase gerhana yang teramati di lokasi: Awal Kontak (P1): Sekitar pukul 08.36 WIT, piringan Bulan mulai menyentuh tepi Matahari. Fase Totalitas: Puncak gerhana terjadi sekitar pukul 09.52 WIT. Kegelapan total menyelimuti Ternate selama kurang lebih 2 menit 45 detik. Fenomena Visual: Saat totalitas berlangsung, pengamat berhasil melihat lapisan korona yang menjulur indah serta penampakan tonjolan matahari (prominence) yang berwarna kemerahan di tepi piringan Matahari. Suasana kota seketika menjadi redup seperti senja, suhu udara terasa menurun, dan burung-burung mulai kembali ke peraduannya. Fokus Riset dan Teknologi Selain pengamatan visual, tim juga memfokuskan pada beberapa aspek teknis dan ilmiah: Analisis Lensa Gravitasi: Pengamatan dilakukan untuk memotret latar belakang bintang di sekitar Matahari guna mempelajari pembelokan cahaya (lensing), sebuah eksperimen klasik untuk membuktikan teori relativitas Einstein. Instrumentasi: Pengamatan menggunakan teleskop portabel yang dilengkapi dengan filter matahari ND5 dan detektor bintang untuk menjamin keamanan mata serta akurasi data digital. Dampak Geomagnet: Tim mencatat adanya variasi pada komponen medan magnet bumi selama fase gerhana, yang menunjukkan penurunan intensitas sesaat akibat terhalangnya radiasi Matahari. Visualisasi Korona: Pengamatan di Ternate berhasil mengabadikan struktur korona matahari secara jelas karena kondisi langit yang mendukung saat totalitas. Waktu Totalitas: Di lokasi pengamatan Masjid Al-Munawar, fase totalitas berlangsung selama kurang lebih 2 menit 45 detik. Fenomena Diamond Ring: Tim berhasil menyaksikan dan mendokumentasikan efek “cincin berlian” yang muncul tepat sebelum dan sesudah fase total. Pengukuran Kecerahan Langit: Beberapa tim di Ternate juga melakukan pengukuran sky brightness menggunakan alat SQM (Sky Quality Meter) untuk melihat perubahan kegelapan atmosfer saat gerhana
Euforia Masyarakat dan Dampak
Ternate dipilih sebagai lokasi utama karena posisi strategisnya yang berada di jalur totalitas terpanjang di daratan Indonesia. Ribuan wisatawan memadati area pesisir dan benteng-benteng bersejarah untuk menyaksikan peristiwa yang hanya terjadi puluhan tahun sekali di lokasi yang sama ini. “Ini adalah momen sains yang luar biasa bagi masyarakat Maluku Utara,” lapor tim di lapangan. Meskipun sempat terhalang awan bergerak, lubang di antara awan memungkinkan pengamat menangkap fase totalitas dengan sangat jelas.
