SLEMAN, 27 April 2026 – Tim pengamat dari Griya Antariksa sukses melaksanakan pengamatan fenomena astronomi langka, yakni okultasi bintang oleh asteroid (1201) Strenua, pada Minggu malam, 26 April 2026. Partisipasi ini merupakan bagian dari kampanye nasional yang dikoordinasikan oleh Observatorium Bosscha untuk memetakan ukuran dan bentuk asteroid tersebut secara lebih akurat.
Fenomena yang sering disebut “gerhana bintang” ini terjadi saat asteroid Strenua melintas tepat di depan bintang HIP 35933 di rasi bintang Gemini. Dari lokasi pengamatan di Bantul, Yogyakarta, cahaya bintang tersebut tampak “padam” selama beberapa detik sebelum akhirnya muncul kembali, menandakan bayangan asteroid telah melewati jalur pengamatan.
Kolaborasi Sains Warga
Keikutsertaan Tim Griya Antariksa kali ini sangat krusial karena mereka menempati salah satu dari 44 titik pengamatan strategis di seluruh Indonesia. Metode citizen science ini memungkinkan para astronom, baik profesional maupun amatir, untuk mengumpulkan data durasi okultasi dari berbagai posisi geografis yang berbeda. Data yang terkumpul akan membantu merekonstruksi profil fisik asteroid Strenua. Hal ini disampaikan oleh salah satu anggota tim teknis dalam rilis kegiatan.
Detail Teknis Pengamatan
Dalam observasi ini, Tim Griya Antariksa menggunakan perlengkapan teleskop Vixen ED80SF dengan penggerak otomatis mounting Sphinx yang dikenal presisi untuk menangkap data fotometri dengan resolusi waktu tinggi. Data yang diperoleh, berupa rekaman video dan catatan waktu (time-stamp) yang sinkron dengan GPS, akan dikirimkan ke pusat data di Observatorium Bosscha untuk diolah bersama data dari daerah lain seperti Lampung, Pasuruan, hingga Kupang. Namun sayang dari lokasi Griya Antariksa langit terkendala oleh mendung di langit barat sehingga data tidak berhasil didapatkan. Meski demikian tim yang terdiri dari 2 Mahasiswa Magang dari UII Yogyakarta yang melakukan pengamatan mengaku tidak kecewa karena dari kegiatan ini ia banyak mendapatkan ilmu.
Hasil pengamatan ini diharapkan dapat mengungkap apakah asteroid Strenua memiliki satelit alami (bulan kecil) atau bentuk yang tidak beraturan, informasi yang sulit didapatkan hanya dengan pengamatan teleskop biasa dari Bumi.
Fenomena okultasi ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan astronomi penting di Griya Antariksa sepanjang tahun 2026, yang sebelumnya juga telah sukses menyelenggarakan pengamatan Gerhana Bulan Total pada Maret lalu. Terlampir dalam posting adalah video hasil pengamatan dari Tim Kupang.
More info: https://bosscha.itb.ac.id/id/okultasi2026/



